ELYANA PUSPITA HADI_MENGKAJI PUISI DI PUNCAK NARAWITA FEST 2024

 KAJIAN PUISI YANG DISAJIKAN DIPUNCAK NARAWITA FEST 2024

Senin, 28 Oktober 2024


Kajian Puisi "Elegi 1" karya Toeti Heraty

Oleh Elyana Puspita Hadi

Elegi



1.   Puisi yang dibacakan pada puncak Narawita Fest hanya Elegi 1

Puisi Elegi 1 dibacakan oleh seorang mahasiswa dari India dan Filipina sebagai pembuka dan pengisi acara pada puncak Narawita Fest 2024

Puisi yang menggambarkan rasa kehilangan, keraguan, dan kegelisahan akan perpisahan.

·       Tema utama dalam puisi puisi ini adalah kehilangan dan kesedihan

·   Gaya bahasa puisi ini menggunakan bahasa yang indah, misalnya “kau gelisah sayang, membuang muka tidak ingin melihat bulan dilingkari sepi “ menggambarkan perasaan seseorang yang tidak ingin menghadapi kenyataan dan sedang kesepian

·    Puisi ini menggunakan gambaran alam dan menggunakan simbolisme untuk memperkuat emosional dan pesan yang terdapat dalam puisi, misalnya “bulan dilingkari sepi” dan “malam menyingkirkan awan” melambangkan perasaan kesepian dan kegelisahan

·    Pada bagian suatu saat bulan akan cemerlang kembali, ia cemerlang kembali menandakan pencerahan dan harapan. Bulan yang kembali menjadi simbol harapan.


Kajian Puisi "Tanah Air Mata” karya Sutardji Calzoum Bachri

Oleh Elyana Puspita Hadi 

    



Puisi Tanah Air Mata dibacakan oleh pemenang lomba baca puisi Narawita Fest 2024
Kajian puisi Tanah Air Mata oleh Elyana Puspita Hadi

·       Puisi “Tanah Air Mata” memiliki makna kritik bagi pemerintahan dan penderitaan kesedihan yang dialami tanah air atau rakyat.

·  Diksi “Air Mata” digunakan berulang kali untuk menggambarkan keprihatinan yang mendalam terhadap rakyat yang hidup di tanah airnya sendiri namun masih banyak yang sengsara, sedangkan pemimpinya hidup dengan mewah, dilihat dari kata “di balik gembur subur tanahmu”, “kami simpan perih kami”, “di balik etalase megah gedung-gedungmu”, “kami coba sembunyikan derita kami”

·    Pada bait pertama yaitu “tanah air mata tanah tumpah darahku, mata air airmata kami, airmata tanah air kami. Menggambarkan tanah air bukan hanya tempat kelahiran namun juga menjadi tempat tumpahnya air mata rakyat, kesedihan dan penderitaan terkumpul di tanah air.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGKAJI PUISI DI ACARA MAHASASTRA 736

Kajian Semantik Analisis Ragam Makna dalam Album Lagu Tulus