PRAGMATIK

 Nama  : Elyana Puspita Hadi

NPM    : 23410068

Prodi   : PBSI

Kelas   : 4B

 

SEJARAH LAHIRNYA PRAGMATIK

Pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan konteks penggunaannya. Istilah pragmatik pertama kali diperkenalkan oleh Charles W. Morris pada tahun 1938. Morris membagi semiotika menjadi tiga bagian yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Menurutnya, pragmatik adalah studi tentang hubungan tanda-tanda yang melibatkan penafsiran. Morris berpendapat bahwa pragmatik mempelajari hubungan antara tanda dan interpretasinya dalam konteks komunikasi. Ilmu pragmatik kemudian berkembang di Eropa selama periode 1940-an. Pada tahun 1960-an, J.L. Austin berkembang di Amerika Serikat, memperkenalkan konsep tindak tutur dalam bukunya How to Do Things with Words (1962), yang membedakan antara tuturan performatif dan konstatif. Ilmu pragmatik di Amerika Serikat juga dipengaruhi oleh murid Austin, John Searle, yang mengembangkan pemikiran-pemikiran Austin dan menerbitkan karya-karyanya mengenai pragmatik pada tahun 1969 dan 1975. Konsep penting yang dikembangkan oleh Searle adalah tentang tindak tutur. Selain itu, Paul Grice dikenal dengan teori implikatur percakapan dan prinsip kerja sama, Grice menjelaskan bagaimana kita secara implisit menyampaikan dan memahami makna yang tidak diucapkan secara eksplisit dalam percakapan.

Studi pragmatic diakui secara resmi yang ditandai dengan terbitnya Jurnal Pragmatik (The Journal of Pragmatics) pada tahun 1977 dan terbentuknya sebuah organisasiu yang membahasa pragmatik. Istilah pragmatik mulai popular di Indonesia sejak tahun 1980-an

ISTILAH PRAGMATIK

Pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari bagaimana makna bahasa ditentukan oleh konteks penggunaannya, termasuk maksud pembicara dan interpretasi pendengar.

Contoh pragmatic

1.     “Ruangan ini panas sekali ya” berarti permintaan agar seseorang menyalakan ac atau kipas angin.

2.     “Rumah Makan Padang” dalam makna pragmatik berarti rumah makan tersebut menyajikan masakan padang, namun secara semantik mengacu pada rumah makan yang berlokasi di Kota Padang.

 

KEDUDUKAN PRAGMATIK DALAM TATARAN LINGUISTIK

Pragmatik memiliki kedudukan yang penting dalam tataran linguistik karena mempelajari penggunaan bahasa dalam konteks sosial dan situasional. Berikut adalah beberapa kedudukan pragmatik dalam linguistik:

1.     Sebagai cabang linguistik kontekstual

Pragmatik menekankan pentingnya konteks dalam menentukan makna bahasa, yang meliputi waktu, tempat, partisipan, serta tujuan komunikasi.

2.    Berikut adalah kedudukan pragmatik dalam tataran linguistik

  •       Fonologi: Mempelajari bunyi bahasa dan bagaimana bunyi membentuk kata.
  •      Morfologi:  Menganalisis struktur kata, termasuk pembentukan kata dari morfem.
  •      Sintaksis: Meneliti aturan dan struktur kalimat dalam suatu bahasa.
  •      Semantik: Mempelajari makna kata dan kalimat secara leksikal dan gramatikal
  •    Pragmatik: Meneliti bagaimana makna dipengaruhi oleh konteks penggunaan bahasa, termasuk maksud penutur, hubungan sosial, dan situasi komunikasi
  •   Sosiolinguistik: Cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan    masyarakat. Ilmu ini meneliti bagaimana faktor-faktor sosial seperti usia, jenis kelamin, kelas sosial, etnis, dan konteks situasi memengaruhi penggunaan bahasa. Sosiolinguistik juga mempelajari variasi bahasa, seperti dialek, aksen, dan gaya bahasa, serta bagaimana variasi tersebut digunakan dalam interaksi sosial.
  •    Psikolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan pikiran. Ilmu ini meneliti bagaimana manusia memperoleh, memahami, dan menghasilkan bahasa.

  • Wacana: Satuan bahasa yang lebih besar dari kalimat atau klausa dapat berupa teks tertulis, percakapan lisan, atau bentuk komunikasi lainnya. Analisis wacana mempelajari bagaimana bahasa digunakan dalam konteks yang lebih luas, dan bagaimana makna dibangun dalam interaksi sosial. Wacana juga mempelajari bagaimana bahasa digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti membujuk, menginformasikan, atau menghibur.

HUBUNGAN PRAGMATIK DENGAN TATARAN LINGUISTIK LAINYA

·      Semantik

Semantik berfokus pada makna kata dan kalimat secara leksikal, sedangkan pragmatik menekankan bagaimana makna dipengaruhi oleh konteks.

·       Sintaksis

Struktur kalimat sering memengaruhi interpretasi pragmatik, seperti intonasi atau urutan kata yang mengisyaratkan maksud pembicara.

·       Sosiolinguistik

Pragmatik berhubungan erat dengan variasi bahasa dalam konteks sosial, seperti status sosial atau norma budaya.

·       Psikolinguistik

Pragmatik membantu memahami bagaimana manusia memproses bahasa dengan mempertimbangkan faktor konteks.

3.     Kontribusi terhadap analisis wacana: Pragmatik menyediakan kerangka kerja untuk menganalisis wacana atau urutan ujaran, serta bagaimana makna dibangun dalam interaksi.

 

PENTINGNYA MEMPELAJARI PRAGMATIK

  • Memahami Makna dalam Konteks:

Pragmatik menjelaskan bagaimana makna kalimat bergantung pada konteks penggunaannya. Misalnya, sebuah ungkapan seperti "Bagus sekali!" bisa menjadi pujian atau sindiran, tergantung pada nada suara dan situasi.

  • Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi:

Dengan memahami pragmatik, kita dapat lebih efektif dalam berinteraksi, baik dalam percakapan sehari-hari, di tempat kerja, maupun dalam lingkungan sosial lainnya. Hal ini termasuk mengetahui kapan harus menggunakan bahasa formal atau informal.

  •       Menghindari Kesalahpahaman:

Banyak kesalahpahaman terjadi karena penafsiran makna yang berbeda. Pragmatik membantu mengurangi kesalahpahaman ini

  •        Relevan dalam Kajian Multikultural dan Antarbahasa:

Pragmatik penting untuk memahami variasi penggunaan bahasa di berbagai budaya. Ini sangat berguna dalam lingkungan global yang multikultural, seperti memahami humor, sindiran, atau sopan santun dalam bahasa lain.

  •        Mendukung Kajian Linguistik Lainnya:

Pragmatik melengkapi cabang linguistik lainnya, seperti semantik dan sosiolinguistik, untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana bahasa berfungsi.

KATA BEBAS

Kata bebas adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan memiliki makna tanpa perlu dihubungkan dengan kata lain. Kata ini tidak tergantung pada kata lain untuk membentuk makna. Contoh:

1.     Buku - Sebuah benda yang berisi tulisan atau gambar.

2.     Kucing - Hewan peliharaan yang sering dijumpai.

3.     Makan - Kegiatan mengonsumsi makanan.

KATA TERIKAT

Kata terikat adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri dan memerlukan tambahan afiks (awalan, akhiran, atau sisipan) untuk membentuk makna. Kata ini biasanya merupakan bentuk dasar yang telah mengalami proses morfologis. Contoh:

4.     Berkendara - Kata ini berasal dari kata dasar “kendara” yang membutuhkan awalan “ber-” untuk memberikan makna.

5.     Menyanyi - Kata ini berasal dari kata dasar “nyanyi” dengan awalan “me-” yang menunjukkan aktivitas.

6.     Pendidikan - Kata ini berasal dari kata dasar “didik” dengan akhiran “-an” yang menunjukkan suatu proses atau hasil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGKAJI PUISI DI ACARA MAHASASTRA 736

Kajian Semantik Analisis Ragam Makna dalam Album Lagu Tulus

ELYANA PUSPITA HADI_MENGKAJI PUISI DI PUNCAK NARAWITA FEST 2024