PRAGMATIK
NAMA : ELYANA PUSPITA HADI
NPM : 23410068
PERBEDAAN
ILMU PRAGMATIK, SEMANTIK, DAN SOSIOLINGUISTIK
Pragmatik sama dengan semantik
karena sama-sama mengkaji makna bedanya jika semantik mengkaji makna kata,
makna leksikal, makna apa adanya yang terlihat dari bentuk sementara pragmatik
mengkaji makna yang tertuang di dalam kalimat yang dikendalai oleh konteks.
Bahasa tidak hanya berupa bentuk dan isi (yang dikatakan isi adalah makna yang
tertuang di dalam bentuk) dengan kata lain pragmatik mengkaji maksud arti
kalimat bukan arti kata berarti apa yang ada dibalik tuturan tersebut. Untuk
melihat tuturan itu kita perlu melihat konteksnya (kapan, siapa, pada siapa
tuturan diucapkan, di mana tuturan itu diucapkan, dan apa tujuanya). Peristiwa
tutur dikaji oleh Delhaems dengan speaking, situation, participant (siapa yang berbicara,
pada siapa dia berbicara), N (tujuan pembicaraan), action (tuturan yang
diucapkan), K key (kunci dilihat dari tuturanya), I instrumen ( bisa dilihat
dari tuturanya disampaikan secara langsung atau tidak langsung), Norma (tata
aturan yang harus diperhatikan). Tuturan itu berupa dalam bahasa sastra, bahasa
ilmiah, bahasa standar, bahasa baku, dan mengandung register karena berkaitan
dengan ilmu tertentu.
ILMU PRAGMATIK
Pragmatik adalah cabang linguistik
yang mempelajari bagaimana konteks memengaruhi makna bahasa. Fokusnya adalah
bagaimana penutur dan pendengar memahami makna yang digunakan dalam situasi
tertentu dengan memperhatikan niat penutur, pendengan dan konteks sosial.
Contoh: Seseorang berkata,
"Panas sekali di sini." Secara semantik, kalimat ini hanya menyatakan
suhu ruangan. Namun, secara pragmatik, kalimat ini bisa berarti permintaan
untuk membuka jendela atau menyalakan AC.
SEMANTIK
Semantik adalah cabang linguistik
yang mempelajari makna kata, frasa, dan kalimat secara harfiah, terlepas dari
konteks penggunaannya.
Contoh: "Buku itu berwarna merah" secara semantik berarti ada sebuah buku yang memiliki warna merah.
SOSIOLINGUSITIK
Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat. Ini mencakup bagaimana faktor-faktor sosial seperti usia, jenis kelamin, kelas sosial, dan etnisitas mempengaruhi penggunaan bahasa. Sosiolinguistik fokus pada perbedaan penggunaan bahasa antara generasi muda dan generasi tua, penggunaan dialek atau aksen yang berbeda dalam kelompok sosial yang berbeda, dan penggunaan bahasa formal saat berbicara dengan orang yang lebih tua, dan penggunaan bahasa non formal saat berbicara dengan teman sebaya.
Contoh: Penutur di daerah Jakarta mungkin menggunakan kata "gue" untuk percakapan informal, sedangkan di Jawa Tengah lebih lazim menggunakan "aku".
CONTOH PERBEDAAN
- Pragmatik: Kalimat "Kamu pintar sekali" bisa dimaksudkan sindiran atau pujian tergantung pada nada suara dan situasi.
- Semantik:
Kata "pintar" selalu berarti cerdas, tidak peduli
konteksnya.
- Sosiolinguistik: Di daerah tertentu, ungkapan "anda" digunakan untuk mengekspresikan formalitas, sementara "kamu" menunjukkan keakraban.
1. Konteks Pertanyaan dalam Setiap Bait
- "Katakan
padaku, kekasih, apakah hari ini hujan?"
- Secara
pragmatik, penulis tidak hanya bertanya tentang kondisi cuaca, tetapi
menyiratkan rasa penantian yang panjang dan harapan untuk perubahan atau
kedatangan sesuatu yang dinanti.
- "Aku
telah menanti terlalu lama di balik jendela yang tertutup rapat."
- Pernyataan ini memperjelas bahwa pertanyaan sebelumnya tentang hujan adalah metafora untuk harapan atau sesuatu yang diinginkan tetapi tidak kunjung tiba.
2. Makna Tersirat dalam Pertanyaan
kepada Teman
- "Apakah
bunga-bunga telah mekar?"
- Di
sini, bunga menjadi simbol kehidupan, pembaruan, atau kebahagiaan yang
mungkin hilang atau belum ditemukan. Secara pragmatik, pertanyaan ini
menyiratkan rasa keputusasaan atau stagnasi (ketika musim tetap sama, dan
tidak ada perubahan).
- "Dalam
kamar yang tak pernah berubah."
- Frasa
ini memberikan konteks situasi statis, menggambarkan rasa terperangkap
baik secara fisik maupun emosional.
3. Pertanyaan kepada Dunia
- "Apakah
kau masih seperti dulu?"
- Secara
pragmatik, ini bukan pertanyaan literal, tetapi pengungkapan keraguan
tentang dunia yang berubah, mungkin menandakan perasaan alienasi atau
kehilangan koneksi dengan dunia luar.
- "Aku
telah menyerahkan tahun-tahunku pada dinding-dinding yang membisu."
- Kalimat
ini menyiratkan rasa pasrah dan kehilangan waktu, di mana dinding menjadi
saksi bisu atas penderitaan atau isolasi.
4. Dialog dengan Diri Sendiri
- "Apakah
kau masih hidup?"
- Dalam
konteks pragmatik, ini adalah refleksi mendalam terhadap makna eksistensi
dan pertanyaan tentang apakah penulis masih memiliki semangat hidup atau
hanya menjalani rutinitas tanpa makna.
Komentar
Posting Komentar